Hipertensi yang saat ini merupakan penyakit yang umum terjadi di masyarakat kita, seringkali tidak disadari karena tidak mempunyai gejala khusus. Padahal apabila tidak ditangani dengan baik, hipertensi mempunyai resiko besar untuk meninggal karena komplikasi kardivaskular seperti stroke, jantung, atau gagal ginjal.
Berikut ini penjelasan mengenai faktor-faktor resiko hipertensi: Faktor genetik. Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menyebabkan keluarga itu mempunyai resiko menderita hipertensi. Hal ini berkaitan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara potassium terhadap sodium. Seserang dengan orangtua penderita hipertensi mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi daripada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi.
Umur. Insidensi hipertensi meningkat seiring dengan pertambahan usia. Seseorang yang berumur diatas 60 tahun, 50 - 60 % diantaranya mempunyai tekanan darah lebih besar atau sama dengan 140/90 mmHg. Hal itu merupakan pengaruh degenerasi yang terjadi sejalan dengan pertambahan usia.
Jenis Kelamin. Lelaki mempunyai resiko lebih tinggi untuk menderita hipertensi lebih awal. Lelaki juga mempunyai resiko lebih besar terhadap morbiditas dan mortalitas cardiovaskuler. Sedangkan diatas umur limapuluh tahun, hipertensi lebih banyak terjadi pada perempuan.
Etnis. Hipertensi lebih banyak terjadi pada orang yang berkulit hitam daripada orang yang berkulit putih. Belum diketahui penyebabnya secara pasti, namun pada orang kulit hitam ditemukan kadar renin yang lebih rendah dan sentifitas terhadap vasopresin lebih besar.
Stress. Stress akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan curah jantung. Sehingga akan menstimulasi aktifitas saraf simpatetik. Adapun stress ini dapat berhubungan dengan pekerjaan, kelas sosial, ekonomi, dan karakteristik personal.
Obesitas. Penelitian epidemilogi menyebutkan adanya hubungan antara berat badan dengan tekanan darah, baik pada pasoen hipertensi maupun pada normotensi. Pada populasi yang tidak ada peningkatan berat badan seiring pengkatan umur, tidak dijumpai peningkatan tekanan darah sesuai peningkatan umur. Obesitas pada tubuh bagian atas, berhubungan dengan peningkatan jumlah lemak pada bagian perut.
Nutrisi. Sodium adalah penyebab dari hipertensi esensial, asupan garam yang tinggi akan menyebabkan pengeluaran berlebihan dari hormon natriouretik yang secara tidak langsung akan meningkatkan tekanan darah. Sodium secara eksperimental menunjukkan kemampuan untuk menstimulasi mekanisme vasopressor pada susunan syaraf pusat. Defisiensi potasium akan berimplikasiterhadap terjadinya hipertensi.
Orang-orang yang berisiko terkena hipertensi adalah mereka yang ada riwayat hipertensi dalam keluarganya, Kegemukan atau obesitas, merokok, mempunyai penyakit diabetes melitus atau ekncing manis, dan mempunyai penyakit ginjal.
Gejala. Pasien hipertensi mungkin tidak merasakan gejala yang berarti. Onset hipertensi yang bertahap disebut sebagai silent killer. Hipertensi dapat muncul setelah setahun atau ditemukan saat sudah terjadi komplikasi. Ketika terjadi kenaikan darah yang berarti maka penderita dapat merasakan gejal sakit kepala, mengntuk, keletihan, sulit tidur, gemetaran, mimisan, atau penglihatan yang kabur. Sedangkan pada hipertensi maligna dapat ditemukan penderita yang mengalami sakit kepala, kerusakan penglihatan, kejang, bahkan bisa sampai koma.
Peningkatan darah yang berkepanjangan akan mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah yang ada disebagian besar tubuh. Pada beberapa organ seperti jantung, ginjal, otak, dan mata. Gagal jantung, infark, miokard, gagal ginjal, stroke, dan gangguan penglihatan adalah konsekuensi yang terjadi pada hipertensi.
Penangan hipertensi. Tujuan penanganan pada penderita hipertensi adalah untuk mencegah morbiditas dan mortalitas yang berkaitan dengan tingginya tekanan darah. Tekanan darah diharapkan dapat dipertahankan dibawah 140/190 mmHg atau dibawah 130/80 mmHg untuk pasien yang mengalami diabetes dan gagal ginjal.
Penanganan hipertensi pada tahap awal dilakukan dengan memodifikasi gaya hidup, meliputi penurunan berat badan, pembatasan asupan garam, diet kolesterol dan lemak jenuh, olahraga, pembatasan konsumsi alkohol, pembatasan konsumsi kopi, menggunakan tekhnik relaksasi, untuk peredaan stress, tidak merokok, menggunakan suplemen potasium, kalsium dan magnesium.
(dikutip dari makalah Dr Arieska Ann Soenarta SpjP (K) President of Indonesian Society of Hypertension (InaSH) ketika menjadi pembicara pada Media Edukasi dengan tema "Waspadai Hipertensi dan Penyakit-penyakit Penyertanya sebagai Ancaman Kematian Terbesar di Dunia" yang diselenggarakan oleh Boehringer Ingelheim, pada Rabu 9 April 2008, di Jakarta.
Wednesday, April 23, 2008
Faktor Resiko dan Gejala Hipertensi
Labels:
Hidup Sehat